
Kemarin sore tanpa sengaja aku mendengar cerita ibu2 di kereta. Bahwa anaknya yang udah kelas 5 SD gak bisa menyanyikan lagu Indonesia Raya. Itu karena saat ini upacara bendera udah gak pernah dilakukan di sekolah2. Sehingga anak2 itu gak mengerti seremoni apa aja yang ada di upacara bendera plus lagu2 yang biasa dinyanyiin. Termasuk tentu aja lagu Indonesia Raya.
Aku tertegun sedih mendengar cerita ini.
Sedih karena si ibu menceritakannya tanpa ekspresi apa2.
Sedih karena walopun jaman sekolah dulu aku juga membenci upacara bendera tapi sekarang harus mengakui bahwa sedikit banyak kegiatan itu ada manfaatnya.
Sedih karena gejala `gak kenal lagu kebangsaan sendiri’ seolah2 dianggap sebagian orang sebagai hal yang biasa2 aja.
Sedih karena kebebasan yang sekarang diberlakukan dalam banyak bidang seringkali ditanggapi dengan salah kaprah.
Sedih karena membayangkan 10 tahun lagi mungkin akan banyak sekali orang Indonesia yang gak kenal lagu Indonesia Raya.
Sedih karena mungkin bukan hanya lagu Indonesia Raya, tapi banyak lagu nasional lainnya yang juga gak akan dikenal lagi dan hanya akan dinyanyikan generasi tua.
Sedih karena merasa gap antar generasi menjadi semakin jauh dan lebar.
Sedih dengan kenyataan bahwa terlalu mudah orang melupakan sesuatu yang bernilai dan berpaling pada hal lain hanya demi alasan sepele seperti repot misalnya.
Aku mengerti, rasa kebangsaan seseorang tidak dinilai dari sikapnya ketika mengikuti upacara bendera ataupun seberapa banyak dia menghapal lagu nasional.
Tapi menurutku, tidak mengenal lagu kebangsaan sendiri adalah sesuatu yang cukup kelewatan.
Dan tidak punya kesadaran untuk mengenal dan mempelajarinya adalah lebih dari kelewatan. Toh saat ini begitu banyak media belajar yang bisa dimanfaatkan. Asalkan tentu saja ada niat utk melakukannya.
Well, sepertinya aku sudah tau bagaimana menghabiskan libur tujuhbelasan kali ini. Aku mau mengajarkan Azka beberapa lagu nasional yang sederhana termasuk tentunya mengenalkan lagu Indonesia Raya. Pasti bangga rasanya bisa menyanyikan lagu2 itu bersama Azka, seperti yang dulu sering kulakukan bersama ibuku dan ayahku.
Selamat ulang tahun bangsaku.
Carut marut yang terjadi tidak mengurangi rasa cintaku pada negri ini.

from: getty images
No comments:
Post a Comment